Setiap orang tentu menginginkan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat. Namun, bagaimana caranya agar kita bisa mencapai kebahagiaan tersebut? Ulama kharismatik asal Rembang, Jawa Tengah, KH Baharuddin Nursalim—lebih dikenal sebagai Gus Baha—menyampaikan bahwa:
Sabar
Sabar adalah kemampuan untuk menahan diri dari berbagai dorongan negatif seperti kemarahan, keluh kesah, dan sikap anarkis. Dalam menghadapi ujian dan kesulitan, kesabaran menuntut kelapangan hati dan keteguhan jiwa. Seseorang yang mampu bersabar dengan baik akan memiliki karakter yang kuat, karena ketahanan diri terhadap cobaan menjadi fondasi dari kualitas hidupnya.
Ali bin Abi Thalib RA mengibaratkan hubungan antara sabar dan iman seperti kepala dengan tubuh. Tanpa kepala, tubuh tidak bisa hidup; demikian pula, tanpa kesabaran, iman pun tidak akan bertahan. Al-Qur’an juga memperkuat hal ini dalam surah Ali Imran ayat 200 yang menyeru orang-orang beriman untuk bersabar, memperkuat kesabaran, dan bertakwa agar memperoleh keberuntungan.
Menurut Quraish Shihab, berdasarkan ayat tersebut, bersabar adalah sebuah kewajiban. Ketika seseorang menghadapi musibah, ia dituntut untuk bersabar sejak awal ujian hingga datangnya solusi. Kesabaran adalah senjata utama orang beriman—semakin tinggi kesabaran, semakin kuat pula imannya. Maka dari itu, kesabaran menjadi kunci dalam menyelesaikan setiap persoalan hidup. Orang yang sabar akan tetap mampu bertahan dan hidup damai di segala kondisi.
Syukur
Syukur adalah sikap berterima kasih kepada Allah SWT atas segala nikmat-Nya, baik melalui pengakuan lisan, pengagungan, maupun tindakan positif lainnya. Islam sangat menekankan pentingnya bersyukur, karena manfaatnya sangat besar, baik bagi kesehatan mental, fisik, maupun spiritual. Dengan bersyukur, hati menjadi tenteram, pikiran jernih, dan beban hidup terasa lebih ringan.
Dalam perjalanan hidup, kekecewaan adalah hal wajar. Namun, membiarkan kekecewaan itu merusak jiwa dan raga adalah hal yang merugikan. Oleh sebab itu, syukur adalah obat mujarab yang mampu menyembuhkan luka hati dan menjaga kebahagiaan dalam diri.
Ikhlas
Ikhlas berarti menerima dan merelakan segala hal demi mendapatkan keridhaan Allah SWT. Sikap ini mencerminkan ketulusan hati dan kebersihan niat yang mampu membawa kedamaian, ketenangan, dan kebahagiaan sejati. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ikhlas diartikan sebagai hati yang jujur dan rela. Sedangkan dalam bahasa Arab, ikhlas berasal dari kata khalasha yang berarti membersihkan atau memurnikan sesuatu dari segala bentuk campuran.
Secara istilah, ikhlas merujuk pada kemurnian niat dalam keyakinan dan amal, yang ditujukan hanya kepada Allah. Jika seseorang mampu mengosongkan hatinya dari segala selain Allah, maka dia telah mencapai keikhlasan sejati. Dampak dari keikhlasan ini adalah kebahagiaan batin, kelapangan hati, dan kehidupan yang lebih damai dan sejahtera.
Kontributor : Artanti Laili Zulaiha (Penyuluh Agama Islam Fungsional, KUA Karanganyar)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar