Selamat Datang di Website KUA Karanganyar - Kabupaten Purbalingga - Provinsi Jawa tengah

15 April 2026

Penyuluh Agama Islam KUA Karanganyar Berikan Edukasi Pencegahan Pernikahan Dini dalam Kegiatan Life Skill SMA Ma’arif NU Karanganyar

Penyuluh Agama Islam KUA Karanganyar menjadi narasumber dalam 
Acara Life Skill Kelas XII SMA Ma'arif NU Karanganyar. 

Karanganyar – Kegiatan Life Skill bagi siswa kelas XII SMA Ma’arif NU Karanganyar pada Selasa, 14 April 2026, diisi dengan materi edukatif tentang pencegahan pernikahan dini oleh tim Penyuluh Agama Islam KUA Karanganyar. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam membekali siswa menghadapi kehidupan pasca kelulusan.

Hadir sebagai pemateri, Koordinator Penyuluh Agama Islam Artanti Laili Zulaiha bersama Sri Mulyati, Sayono, Tarom, dan Muchotib. Mereka menyampaikan materi secara interaktif dan komunikatif, sehingga mudah dipahami oleh para siswa.

Dalam pemaparannya, para penyuluh menjelaskan bahwa pernikahan dini merupakan pernikahan yang dilakukan sebelum tercapainya kesiapan secara menyeluruh, baik dari segi usia, mental, emosional, maupun ekonomi. Disampaikan pula bahwa sesuai regulasi, batas minimal usia pernikahan adalah 19 tahun, baik bagi laki-laki maupun perempuan.

Foto bersama dengan perwakilan dewan guru dan siswa.

Materi yang disampaikan meliputi berbagai aspek penting, di antaranya risiko kesehatan reproduksi bagi remaja, terutama bagi perempuan yang belum siap secara biologis, dampak psikologis seperti ketidaksiapan menghadapi konflik rumah tangga, serta potensi terhambatnya pendidikan dan karier. Selain itu, dijelaskan pula dampak sosial dan ekonomi, seperti meningkatnya angka kemiskinan dan ketidakharmonisan keluarga akibat kurangnya kesiapan dalam membangun rumah tangga.

Para penyuluh juga menekankan pentingnya perencanaan masa depan, penguatan karakter, serta pemahaman nilai-nilai agama. Pernikahan dalam Islam dipandang sebagai ibadah yang sakral, sehingga memerlukan kesiapan yang matang agar dapat mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. 

Penyuluh Agama Islam bersama dengan Kepala SMA Ma’arif NU Karanganyar.

Kepala SMA Ma’arif NU Karanganyar, Bapak Kiai Imammudin, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kontribusi para penyuluh.

“Kami sangat mengapresiasi kehadiran Penyuluh Agama Islam KUA Karanganyar. Materi yang disampaikan sangat penting dan relevan bagi siswa kelas XII sebagai bekal mereka dalam menentukan masa depan yang lebih terarah dan bertanggung jawab,” tuturnya.

Salah satu pemateri, Sayono, menegaskan bahwa keputusan menikah tidak boleh dilakukan secara terburu-buru.

“Pernikahan bukan hanya tentang kesiapan usia, tetapi juga kesiapan ilmu, mental, dan ekonomi. Jika dipaksakan tanpa persiapan, justru berpotensi menimbulkan berbagai persoalan dalam rumah tangga,” jelasnya.
 

Brainstorming menjadi salah satu model dalam menyampaikan materi Pencegahan Pernikahan Dini. 


Antusiasme siswa terlihat dari partisipasi aktif dalam sesi diskusi. Triana salah satu perwakilan peserta kelas XII mengungkapkan manfaat kegiatan tersebut.

“Kami merasa sangat terbantu dengan materi ini. Kami jadi lebih memahami risiko pernikahan dini dan pentingnya mempersiapkan masa depan terlebih dahulu sebelum menikah,” ungkap Triana.

Melalui kegiatan ini, diharapkan para siswa mampu lebih bijak dalam mengambil keputusan serta memiliki perencanaan hidup yang matang, sehingga dapat terhindar dari pernikahan dini dan berbagai dampak negatif yang menyertainya.

Kontributor : Artanti Laili Zulaiha



10 Maret 2026

The Most KUA Hadir di Udara: Remaja Sehat, Fisik Kuat, Mental Hebat, Iman Melekat

The Most KUA hadir di Radio Gema Soedirman melalui Program Siraman Qolbu dilaksanakan oleh Artanti Laili Zulaiha, penyuluh agama Islam KUA Karanganyar pada 18 Ramadhan 1447 H/ 8 Maret 2026.

Karanganyar_Program The Most KUA – Move for Sakinah Maslahat kembali digelorakan oleh Kantor Urusan Agama Karanganyar melalui media siaran radio. Kali ini, Penyuluh Agama Islam Artanti Laili Zulaiha hadir sebagai narasumber dalam program Siraman Qolbu di Radio Gema Soedirman pada 18 Ramadhan atau 8 Maret 2026, dengan tema “Remaja yang Sehat: Fisik Kuat, Mental Hebat, Iman Melekat.”

Kehadiran The Most KUA di ruang siar menjadi bentuk layanan bergerak (move) yang adaptif dan proaktif. Tidak hanya menyasar majelis taklim dan kelompok masyarakat secara langsung, pembinaan keluarga dan generasi muda juga diperluas melalui media publik agar menjangkau lebih banyak pendengar lintas usia.

Radio Gema Soedirman merupakan radio komunitas yang berbasis di Purbalingga dan dikenal sebagai media dakwah serta edukasi masyarakat. Melalui berbagai program religius, sosial, dan inspiratif salah satunya Siraman Qolbu. Radio Gema Soedirman menjadi ruang belajar bersama yang menghadirkan narasumber dari kalangan penyuluh agama, tokoh masyarakat, dan praktisi pendidikan. Dengan jangkauan siaran yang luas dan segmentasi keluarga Muslim, Radio Gema Soedirman berkomitmen menyebarkan pesan-pesan keislaman yang menyejukkan dan mencerahkan.

Dalam pemaparannya, Artanti Laili Zulaiha menegaskan bahwa remaja merupakan aset keluarga sekaligus penentu arah masa depan bangsa. Karena itu, membangun generasi yang sehat tidak cukup hanya secara fisik, tetapi juga mental dan spiritual.

Artanti menggambarkan bahwa fisik yang kuat menjadi pondasi utama. Remaja perlu menjaga pola makan, olahraga teratur, serta menjauhi perilaku yang merusak kesehatan. Tubuh yang sehat memudahkan remaja menjalankan ibadah dan aktivitas produktif. Menurutnya, Islam sendiri mendorong umatnya untuk menjadi pribadi yang kuat dan tidak lemah.

Namun, kekuatan fisik saja tidak cukup. Mental yang hebat menjadi benteng dalam menghadapi tantangan zaman. Remaja saat ini hidup di era digital dengan arus informasi yang deras. Tanpa ketahanan mental, mereka mudah terpengaruh oleh tekanan pergaulan, krisis identitas, hingga kecemasan sosial. Oleh karena itu, keluarga perlu membangun komunikasi terbuka, memberikan ruang dialog, serta menanamkan rasa percaya diri dan tanggung jawab sejak dini.

Artanti menekankan pentingnya iman yang melekat. Artanti menyampaikan bahwa iman adalah kompas kehidupan. Ketika iman tertanam kuat, remaja akan memiliki filter dalam memilih pergaulan, menentukan tujuan hidup, serta menghindari perilaku menyimpang.

“Remaja yang sehat bukan hanya yang badannya bugar, tetapi yang hatinya terjaga. Fisik kuat menjadikan mereka tangguh, mental hebat membuat mereka tidak mudah rapuh, dan iman yang melekat akan menuntun setiap langkahnya tetap berada di jalan yang diridhai Allah,” tutur Artanti dalam siaran tersebut.

Artanti juga mengajak para orang tua menjadikan Ramadan sebagai momentum membangun kedekatan dengan anak-anak remaja. Melalui sahur bersama, tadarus keluarga, dan dialog ringan setelah tarawih, orang tua dapat menjadi sahabat sekaligus pembimbing bagi anak-anaknya.

Menurutnya, pembinaan remaja sejatinya adalah bagian dari membangun keluarga sakinah maslahat. Ketika remaja tumbuh sehat lahir batin, maka keluarga akan lebih harmonis, dan masyarakat pun akan dipenuhi generasi yang berakhlak serta berdaya saing.

“Mari kita jaga generasi kita. Karena dari remaja yang sehat, akan lahir keluarga yang kuat. Dan dari keluarga yang kuat, akan tumbuh masyarakat yang maslahat,” pungkasnya.

Melalui siaran Siraman Qolbu di Radio Gema Soedirman, The Most KUA kembali menegaskan komitmennya untuk terus bergerak menghadirkan pembinaan yang relevan dengan kebutuhan zaman. Dakwah tidak hanya disampaikan di ruang-ruang pertemuan, tetapi juga di udara, menyapa hati, menguatkan iman, dan menumbuhkan harapan bagi generasi masa depan.

Kontributor : Tanti
Editor dan Publisher : Artanti Laili Zulaiha

05 Maret 2026

The Most KUA Karanganyar : Layanan Binwin Catin Perkuat Ketahanan Keluarga

Layanan Binwin Catin sebagai upaya memperkuat ketahanan keluarga.

Karanganyar, Kamis 5 Maret 2026 – Program The Most KUA – Move for Sakinah Maslahat kembali dilaksanakan oleh Kantor Urusan Agama Karanganyar dengan menyasar para calon pengantin (catin) melalui kegiatan Bimbingan Perkawinan (Binwin) Catin. Kegiatan ini dilaksanakan di Aula Balai Nikah dan ruang konsultasi KUA Karanganyar, sebagai bagian dari penguatan layanan pembinaan keluarga selama bulan suci Ramadan.

Dalam pelaksanaannya, para calon pengantin yang telah menyelesaikan proses pemeriksaan berkas pendaftaran nikah secara langsung diarahkan untuk mengikuti bimbingan perkawinan. Pola layanan ini menjadi bentuk pelayanan terpadu agar setiap pasangan yang akan melangsungkan pernikahan tidak hanya siap secara administratif, tetapi juga memiliki bekal pemahaman yang memadai untuk membangun kehidupan rumah tangga.

Bimbingan tersebut disampaikan secara kompak oleh para Penyuluh Agama Islam KUA Karanganyar, yakni Sri Mulyati, Artanti Laili Zulaiha, Tarom, dan Sayono. Mereka menghadirkan materi tentang keluarga sakinah dan maslahat, yang menjadi fondasi penting dalam membangun rumah tangga yang harmonis, penuh keberkahan, dan bermanfaat bagi lingkungan.


Selama bulan Ramadan, kegiatan Bimbingan Perkawinan Catin diintegrasikan dengan Program The Most KUA – Move for Sakinah Maslahat. Integrasi ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat layanan pembinaan keluarga melalui pendekatan yang lebih aktif dan menjangkau langsung masyarakat.

Melalui pendekatan tersebut, KUA tidak hanya menunggu masyarakat datang untuk pelayanan administratif, tetapi juga secara proaktif memberikan pembekalan nilai-nilai kehidupan berumah tangga kepada calon pengantin. Ramadan yang sarat dengan nuansa spiritual dinilai menjadi momentum yang tepat untuk menanamkan nilai keimanan, kesabaran, dan tanggung jawab dalam membangun keluarga.




Dalam penyampaian materi, para penyuluh mengajak calon pengantin untuk memahami bahwa pernikahan merupakan perjalanan panjang yang memerlukan kesiapan lahir dan batin. Rumah tangga tidak hanya dibangun oleh rasa cinta, tetapi juga oleh komitmen, tanggung jawab, dan kemampuan untuk saling memahami.

Konsep keluarga sakinah dijelaskan sebagai kondisi rumah tangga yang dipenuhi ketenangan, cinta, dan kasih sayang. Ketenangan tersebut tumbuh ketika suami dan istri mampu saling menghormati, menjaga komunikasi yang baik, serta menjalankan peran masing-masing dengan penuh tanggung jawab.



Para calon pengantin juga diajak merenungkan makna mawaddah dan rahmah dalam kehidupan rumah tangga. Mawaddah dipahami sebagai cinta yang terus dipelihara melalui perhatian dan kepedulian, sementara rahmah merupakan kasih sayang yang melahirkan sikap sabar, empati, dan saling memaafkan dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan.

Lebih jauh, dijelaskan pula dimensi maslahat, yakni bagaimana keluarga tidak hanya menjadi tempat tumbuhnya kebahagiaan pribadi, tetapi juga menjadi sumber kebaikan bagi masyarakat. Dari keluarga yang baik akan lahir generasi yang berakhlak, bertanggung jawab, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosialnya.



Dalam suasana yang dialogis, para calon pengantin juga diajak berdiskusi tentang pentingnya komunikasi dalam rumah tangga, pengelolaan konflik secara dewasa, serta perencanaan kehidupan keluarga yang mencakup aspek spiritual, ekonomi, dan sosial. Sementara itu, sesi konsultasi di ruang khusus memberikan kesempatan bagi pasangan untuk menyampaikan pertanyaan dan mendapatkan arahan secara lebih personal.



Melalui pelaksanaan Binwin Catin yang terintegrasi dengan Program The Most KUA ini, KUA Karanganyar menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi masyarakat sejak awal perjalanan rumah tangga. Diharapkan para calon pengantin tidak hanya siap melangsungkan akad nikah, tetapi juga mampu membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, dan maslahat, yang menjadi pondasi kuat bagi terciptanya masyarakat yang harmonis dan sejahtera.

The Most KUA Karanganyar Hadir di MA Ar Roudhoh: Edukasi Remaja Sehat dan Pencegahan Pernikahan Dini

The Most KUA bersama MA Ar Roudhoh Kalijaran.

Karanganyar_Program The Most KUA (Move for Sakinah Maslahat) kembali dilaksanakan oleh Kantor Urusan Agama Karanganyar dengan menyasar kalangan pelajar melalui kegiatan BRUS (Bimbingan Remaja Usia Sekolah). Kegiatan ini berlangsung di MA Ar Roudhoh Kalijaran dengan peserta siswa dan siswi kelas X pada Kamis, (5/3/2026).

Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut dua Penyuluh Agama Islam KUA Karanganyar, yakni Sayono dan Artanti Laili Zulaiha. Keduanya menyampaikan materi bertema “Remaja Sehat dan Pencegahan Pernikahan Dini.” Materi ini disampaikan secara interaktif dan dialogis, sehingga para siswa tidak hanya mendengarkan, tetapi juga terlibat aktif dalam diskusi.

Dalam pemaparannya, para narasumber menekankan bahwa masa remaja merupakan fase penting dalam pembentukan jati diri. Pada masa ini, remaja mengalami perkembangan fisik, emosional, serta sosial yang sangat pesat. Oleh karena itu, mereka perlu dibekali pemahaman yang tepat agar mampu menjalani masa remaja dengan sehat dan bertanggung jawab.

Sayono menjelaskan bahwa remaja yang sehat bukan hanya dilihat dari kondisi fisik, tetapi juga dari kematangan mental dan spiritual. Remaja perlu menjaga pola hidup sehat, menjauhi pergaulan yang merugikan, serta membangun karakter yang kuat agar mampu menghadapi berbagai tantangan zaman.

“Remaja adalah masa menyiapkan masa depan. Jika sejak sekarang kalian menjaga kesehatan, memperkuat ilmu, dan membangun akhlak yang baik, maka kalian sedang menyiapkan kehidupan yang lebih baik di masa depan,” ujar Sayono di hadapan para siswa.

Sayono juga menyoroti pentingnya pendidikan dan perencanaan masa depan sebagai bagian dari upaya pencegahan pernikahan dini. Menurutnya, pernikahan membutuhkan kesiapan yang matang, baik dari sisi usia, mental, ekonomi, maupun tanggung jawab sosial.

Sementara itu, Artanti Laili Zulaiha menekankan bahwa pernikahan merupakan ibadah yang mulia, namun harus dijalani dengan kesiapan yang utuh. Pernikahan yang dilakukan terlalu dini berpotensi menimbulkan berbagai persoalan, seperti ketidaksiapan mental, putus sekolah, hingga ketahanan keluarga yang lemah.

Dalam suasana yang hangat dan komunikatif, Artanti mengajak para siswa untuk memandang masa remaja sebagai waktu terbaik untuk belajar, mengembangkan potensi, serta merancang cita-cita.

“Masa remaja adalah masa emas untuk menuntut ilmu dan membangun mimpi. Pernikahan adalah ibadah yang agung, tetapi harus dijalani dengan kesiapan yang matang agar mampu mewujudkan keluarga sakinah yang penuh keberkahan,” ungkap Artanti.

Artanti juga mengingatkan bahwa menjaga diri, membangun pergaulan yang sehat, serta memperkuat iman merupakan langkah penting agar remaja mampu melindungi diri dari berbagai risiko pergaulan bebas yang dapat berujung pada pernikahan dini.
KUA Hadir Mendampingi Generasi Muda

BRUS dalam Program The Most KUA, tidak hanya membina pasangan yang akan menikah, tetapi juga mendampingi generasi muda agar siap menghadapi masa depan dengan lebih matang. Edukasi kepada pelajar di lingkungan madrasah ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran bahwa masa depan yang baik dibangun melalui kesehatan, pendidikan, akhlak, dan perencanaan hidup yang bijaksana. Dengan demikian, para remaja dapat tumbuh menjadi generasi yang kuat, berkarakter, serta siap membangun keluarga sakinah di masa yang tepat. 

Kontributor : Sayono
Editor dan Publisher : Artanti Laili Zulaiha

04 Maret 2026

The Most KUA: Penguatan Fondasi Keluarga Sakinah bagi Calon Pengantin

Sayono, penyuluh agama Islam usai memberikan bimbingan perkawinan bagi calon pengantin dan menyerahkan sertifikat Binwin dan buku Fondasi Keluarga Sakinah.

Karanganyar_Program The Most KUA (Move for Sakinah Maslahat) kembali diwujudkan oleh Kantor Urusan Agama Karanganyar melalui kegiatan Bimbingan Perkawinan (Binwin) bagi Calon Pengantin. Kegiatan ini telah dilaksanakan di Aula Balai Nikah dan ruang konsultasi KUA Karanganyar pada Selasa (3/3/2026). Menyasar para calon pengantin (catin) yang telah menyelesaikan pemeriksaan berkas pendaftaran nikah.

Bimbingan ini disampaikan secara kompak oleh para Penyuluh Agama Islam, yaitu Sri Mulyati, Artanti Laili Zulaiha, dan Sayono. Ketiganya menghadirkan materi tentang Fondasi Keluarga Sakinah sebagai upaya membentuk keluarga sakinah, mawaddah, warahmah, dan maslahat.

Dalam suasana yang hangat dan dialogis, para penyuluh menekankan bahwa pernikahan bukan sekadar seremoni, melainkan awal perjalanan panjang yang membutuhkan kesiapan lahir dan batin. Fondasi keluarga sakinah dimulai dari niat yang lurus karena Allah, komitmen yang kuat, serta pemahaman terhadap peran dan tanggung jawab masing-masing.

Artanti Laili Zulaiha, penyuluh agama Islam memberikan sertifikat binwin dan buku Fondasi Keluarga Sakinah kepada calon pengantin.

Materi disampaikan secara naratif dan reflektif. Para calon pengantin diajak memahami makna sakinah sebagai ketenangan yang tumbuh dari rasa saling percaya dan menghargai. Mawaddah dipahami sebagai cinta yang aktif, yang terus dirawat melalui perhatian, komunikasi, dan kesediaan berkorban. Sementara warahmah dimaknai sebagai kasih sayang yang melahirkan empati, kesabaran, dan saling memaafkan dalam menghadapi dinamika rumah tangga.

Lebih lanjut dijelaskan pula dimensi maslahat, yakni bagaimana keluarga tidak hanya berorientasi pada kebahagiaan internal, tetapi juga memberi dampak kebaikan bagi lingkungan sekitar. Keluarga menjadi tempat lahirnya generasi berakhlak, bertanggung jawab, serta memiliki kepedulian sosial.

Sri Mulyati, penyuluh agama Islam usai pelaksanaan Binwin Catin dengan materi Fondasi Keluarga Sakinah dan Mashlahah. 

Para penyuluh juga mengajak calon pengantin untuk membangun komunikasi yang sehat sejak awal, mengelola konflik secara dewasa, serta menyusun perencanaan kehidupan rumah tangga, baik dalam aspek spiritual, ekonomi, maupun sosial. Mereka diingatkan bahwa perbedaan karakter bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk disinergikan.

Setelah pelaksanaan Binwin Catin, calon pengantin diberikan fasilitas sertifikat Binwin, buku Fondasi Keluarga Sakinah dan sneck. Hal ini berlaku kepada semua calon penantin yang mendaftarkan pernikahannya di Kantor Urusan Agama. 

Program The Most KUA, KUA Karanganyar menegaskan bahwa pembinaan keluarga dimulai bahkan sebelum akad terucap. Dengan pembekalan yang komprehensif dan menyentuh aspek spiritual maupun sosial, diharapkan para calon pengantin mampu membangun rumah tangga yang kokoh, harmonis, dan penuh keberkahan.

The Most KUA menjadi bukti nyata bahwa KUA tidak hanya hadir sebagai pencatat peristiwa nikah, tetapi juga sebagai pendamping perjalanan menuju keluarga sakinah mawaddah warahmah dan maslahat. Berupaya mewujudkan keluarga yang tenang, penuh cinta, diliputi kasih sayang, serta membawa kebaikan bagi masyarakat luas.

Kontributor : Sayono
Editor dan Publisher : Artanti Laili Zulaiha

KUA Karanganyar Hadirkan The Most KUA di Bulan Ramadan

The Most KUA Karanganyar hadir di Majelis Taklim Muslimat NU Kabunderan. 

Karanganyar_Dalam rangka menguatkan pembinaan keluarga sakinah selama bulan suci Ramadan, Kantor Urusan Agama Karanganyar melaksanakan Program The Most KUA – Move for Sakinah Maslahat, Rabu (4/3/2026), bertempat di Majelis Taklim Muslimat NU Kabunderan.

Program The Most KUA merupakan tindak lanjut dari inisiasi Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dalam memperkuat layanan pembinaan keluarga sakinah di seluruh KUA selama Ramadan 1447 H/2026 M. Sejalan dengan tema Joyful Ramadan Mubarak, Ramadan dimaknai sebagai bulan berkualitas bersama keluarga, mempererat relasi, serta menghidupkan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan rumah tangga.

The Most KUA dilaksanakan oleh Penyuluh Agama Islam, Muchotib dan Tarom, bersama Penghulu Said Ali Setiyawan. Materi yang diangkat adalah Konsep Dasar Keluarga Sakinah Maslahat, yang disampaikan secara dialogis dan partisipatif kepada jamaah Majelis Taklim Muslimat NU Kabunderan.

Dalam penjelasannya, Muchotib menjelaskan bahwa keluarga sakinah bukan sekadar rumah tangga yang tampak harmonis di permukaan, melainkan keluarga yang menghadirkan ketenangan batin sebagaimana pesan Allah dalam QS. Ar-Rum ayat 21. Ketenangan itu tumbuh dari hubungan yang dilandasi mawaddah dan rahmah—cinta yang tulus serta kasih sayang yang terus dirawat dalam keseharian.

Muchotib menggambarkan bahwa sakinah terbangun melalui komunikasi yang sehat, saling menghargai peran masing-masing, serta kesediaan untuk saling menguatkan dalam kondisi apa pun. Ketika suami dan istri mampu menjadikan rumah sebagai tempat kembali yang menenangkan, maka di situlah fondasi keluarga kokoh berdiri.

Selanjutnya Muchotib menekankan dimensi maslahat dalam keluarga. Menurutnya, keluarga tidak boleh berhenti pada kebahagiaan internal, tetapi harus meluas menjadi sumber kebaikan bagi lingkungan sekitar. Anak-anak dididik dengan nilai iman dan akhlak, orang tua menjadi teladan dalam sikap sosial, serta seluruh anggota keluarga terlibat aktif dalam kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan.

“Keluarga sakinah maslahat bukan hanya keluarga yang tenteram dan penuh kasih sayang, tetapi juga keluarga yang mampu menghadirkan kebaikan sosial. Dari rumah tangga yang kuat, lahir masyarakat yang bermartabat,” ungkap Muchotib.

Dalam suasana Ramadan, pesan tersebut terasa semakin relevan. Muchotib mengajak jamaah menjadikan momen sahur dan berbuka bersama sebagai ruang membangun komunikasi hangat dalam keluarga. Tadarus Al-Qur’an bersama anak-anak menjadi sarana menanamkan nilai spiritual sejak dini. Demikian pula zakat, infak, dan sedekah menjadi latihan nyata menumbuhkan kepedulian sosial dalam lingkup keluarga.

Ramadan bukan hanya bulan ibadah personal, tetapi juga bulan penguatan relasi keluarga. Ketika keluarga mampu menjalani Ramadan dengan penuh kesadaran nilai, maka ketahanan spiritual, emosional, dan sosial akan tumbuh secara alami.

Program The Most KUA – Move for Sakinah Maslahat ini, KUA Karanganyar menegaskan komitmennya untuk terus bergerak mendekatkan layanan pembinaan kepada masyarakat. Pendekatan berbasis kelompok yang dialogis menjadikan pembinaan tidak sekadar penyampaian materi, tetapi juga ruang berbagi pengalaman dan saling menguatkan antar jamaah.

Kontributor : Tarom dan Said
Editor dan Publisher : Artanti Laili Zulaiha

25 Februari 2026

Menjemput Sinar Ramadhan, KUA Karanganyar Gelar Khotmil Qur’an

Khotmil Qur’an KUA Karanganyar menjadi upaya menjemput Sinar Ramadhan.

Karanganyar_Dalam rangka menjemput sinar di bulan suci Ramadhan, KUA Karanganyar menyelenggarakan kegiatan Khotmil Qur’an yang dilaksanakan secara rutin setiap hari Rabu pukul 13.00 WIB selama bulan Ramadhan. Khotmil Qur’an diikuti oleh seluruh ASN KUA Karanganyar dengan penuh khidmat.

Khotmil Qur’an dilakukan dengan sistem pembagian juz kepada masing-masing ASN. Khotmil Qur’an yang dipimpin oleh Basrowi diikuti dengan khusyu. Kepala KUA Karanganyar menyampaikan bahwa khotmil Qur’an menjadi bagian dari ikhtiar spiritual dalam menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an di KUA Karanganyar. 

Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagaimana firman Allah dalam Al-Baqarah ayat 185, sehingga sudah sepatutnya umat Islam menjadikannya momentum untuk semakin dekat dengan Kalamullah.

“Al-Qur’an adalah cahaya. Jika ia menerangi hati, maka ia juga akan menerangi cara kita bekerja,” tegas Kepala KUA Karanganyar.

Membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan memiliki banyak keutamaan. Selain mendapatkan pahala yang berlipat ganda, setiap huruf yang dibaca bernilai kebaikan. Rasulullah Saw. bersabda bahwa setiap satu huruf dari Al-Qur’an dibalas dengan sepuluh kebaikan, dan dilipatgandakan pada waktu-waktu istimewa seperti Ramadhan. Dengan tadarus, hati menjadi lebih tenang, pikiran lebih jernih, serta tumbuh semangat untuk meningkatkan kualitas ibadah dan pelayanan kepada masyarakat.

Kegiatan khotmil Qur’an ini juga bertujuan mempererat ukhuwah antar ASN, membangun budaya kerja yang religius, serta menjadikan kantor sebagai ruang yang tidak hanya produktif secara administratif, tetapi juga subur secara spiritual. Nilai-nilai Al-Qur’an diharapkan dapat menjadi pedoman dalam menjalankan tugas, menjaga integritas, serta meningkatkan profesionalitas dalam pelayanan keagamaan.

“Ramadhan adalah momentum terbaik untuk kembali akrab dengan Al-Qur’an dan menjadikannya pedoman dalam bekerja,” ungkap Sayono, penyuluh agama Islam.

Khotmil Qur’an KUA Karanganyar di bulan Ramadhan sebagai madrasah ruhaniyah bagi seluruh pegawai, agar setelah Ramadhan berakhir, semangat mencintai dan mengamalkan Al-Qur’an tetap terjaga dalam kehidupan sehari-hari.

Kontributor : Artanti Laili Zulaiha

Penyuluh Agama Islam KUA Karanganyar Berikan Edukasi Pencegahan Pernikahan Dini dalam Kegiatan Life Skill SMA Ma’arif NU Karanganyar

Penyuluh Agama Islam KUA Karanganyar menjadi narasumber dalam  Acara Life Skill Kelas XII SMA Ma'arif NU Karanganyar.  Karanganyar – Keg...