Selamat Datang di Website KUA Karanganyar - Kabupaten Purbalingga - Provinsi Jawa tengah

21 November 2025

Bukan Sekadar Cinta: Mengapa Remaja Perlu Ilmu Perkawinan Sejak Dini

Oleh : Artanti Laili Zulaiha (Penyuluh Agama Islam KUA Karanganyar)

Desainer flyer : Artanti Laili Zulaiha

Pendidikan perkawinan sering kali dipahami sebagai materi yang hanya dibutuhkan oleh pasangan yang hendak menikah. Padahal, pemahaman tentang pernikahan justru perlu ditanamkan sejak seseorang berada di usia remaja. Hal ini penting bukan untuk mendorong remaja segera menikah, melainkan memberi mereka bekal pengetahuan, karakter, dan cara berpikir yang matang agar kelak mampu membangun keluarga yang sehat dan harmonis. Dengan demikian, pendidikan perkawinan untuk remaja menjadi langkah preventif dan strategis dalam menciptakan generasi yang siap menghadapi masa depan.


Cinta Tidak Cukup: Pernikahan Membutuhkan Kesiapan yang Utuh
Banyak remaja memandang pernikahan sebagai kelanjutan dari rasa suka atau jatuh cinta. Padahal, kehidupan berkeluarga jauh lebih kompleks dibanding sekadar menjalani hubungan emosional. Di dalamnya terdapat tanggung jawab, kesepakatan, komitmen, pengendalian diri, hingga kemampuan menyelesaikan masalah. Remaja perlu memahami sejak dini bahwa cinta adalah salah satu unsur, namun bukan satu-satunya kunci keberhasilan rumah tangga. Tanpa kesiapan mental dan pengetahuan, pernikahan dapat menjadi sumber masalah baru.

Mencegah Pernikahan Dini dan Risikonya
Kasus pernikahan dini masih terjadi di Purbalingga dan berbagai daerah lainnya. Remaja sering mengambil keputusan tergesa karena tekanan lingkungan, pergaulan, atau masalah emosional. Padahal, pernikahan pada usia muda membawa risiko pada kesehatan reproduksi, keberlanjutan pendidikan, serta kestabilan kehidupan rumah tangga. Pendidikan perkawinan sejak sekolah membantu remaja memahami bahwa setiap keputusan hidup perlu dipikirkan matang, termasuk pernikahan yang membutuhkan kesiapan fisik, psikologis, sosial, dan finansial.

Menanamkan Nilai-Nilai Keluarga Sakinah
Keluarga sakinah tidak tumbuh begitu saja, tetapi dibangun dengan nilai-nilai keislaman yang kuat. Remaja perlu diperkenalkan pada konsep sakinah, mawaddah, dan rahmah sebagai pedoman membangun keluarga yang penuh kedamaian. Nilai-nilai seperti saling menghormati, kejujuran, kerja sama, tanggung jawab, dan kasih sayang merupakan karakter dasar yang harus dipupuk sejak muda. Dengan memahami nilai-nilai ini, remaja dapat membentuk pribadi yang matang dan siap membangun hubungan yang sehat di masa depan.

Melatih Komunikasi dan Pengendalian Emosi
Kemampuan berkomunikasi dan mengelola emosi menjadi modal penting dalam kehidupan berkeluarga. Fenomenanya, banyak remaja yang belum terampil dalam menyampaikan pendapat secara baik, mendengar secara aktif, ataupun meredakan konflik. Pendidikan perkawinan memberi ruang bagi remaja untuk belajar keterampilan ini, sehingga mereka dapat membangun relasi yang lebih sehat, baik dalam pergaulan, keluarga, maupun kelak dalam rumah tangga. Pengendalian emosi juga membantu mencegah mereka dari keputusan impulsif yang berdampak panjang.

Membantu Remaja Merancang Masa Depan
Pendidikan perkawinan memberikan pemahaman bahwa pernikahan adalah bagian dari perjalanan panjang kehidupan. Dengan pengetahuan ini, remaja terdorong untuk merencanakan masa depan secara lebih terarah, mulai dari pendidikan, karier, kondisi ekonomi, hingga impian membangun keluarga. Remaja yang memiliki visi hidup cenderung lebih fokus dan tidak mudah tergoda oleh keputusan jangka pendek yang merugikan diri sendiri.

Kolaborasi Sekolah, KUA, dan Orang Tua
Pendidikan perkawinan bagi remaja hanya akan efektif jika didukung berbagai pihak. KUA memiliki peran penting dalam menyampaikan materi keagamaan dan pembinaan karakter berbasis nilai Islam. BRUS (Bimbingan Remaja Usia Sekolah) menjadi solusi program yang ditawarkan Kementerian Agama melalui KUA sebagai upaya dalam memberikan pendidikan perkawinan bagi remaja. Sekolah berfungsi sebagai media pembelajaran yang menanamkan kedisiplinan, etika pergaulan, dan kebiasaan baik. Sementara itu, orang tua menjadi teladan utama yang memberikan contoh nyata kehidupan keluarga yang harmonis. Kolaborasi ini diharapkan mampu membentuk remaja yang siap menghadapi masa depan dengan pemahaman yang benar tentang pernikahan.

Pernikahan bukanlah perkara sederhana, dan cinta saja tidak cukup untuk membangun rumah tangga yang kokoh. Remaja memerlukan ilmu, pemahaman, dan karakter yang matang agar mampu mempersiapkan diri menghadapi kehidupan berkeluarga kelak. Melalui pendidikan perkawinan sejak dini, remaja dapat tumbuh sebagai generasi yang bijak, bertanggung jawab, dan siap mewujudkan keluarga sakinah di masa depan. Karena itu, pembekalan tentang pernikahan bukan hanya untuk calon pengantin, tetapi juga untuk remaja yang sedang membentuk identitas dan masa depannya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jumat Berakar dan Berlian Mengantarkan KUA Karanganyar Raih Juara III Lomba Video Kreatif

KUA Karanganyar raih Juara III Lomba Video Kreatif dalam rangka Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama Ke-80, Rabu (7/1/2026). Foto : Tim K...