Sayono menyampaikan tausiyah mengenai enam pilar hidup sufi di hadapan jamaah Ikhwan Tarekat Naqsyabandiyah Desa Buara, Kecamatan Karanganyar, Purbalingga, Selasa (15/9/2026). Kegiatan rutin ini menjadi wadah penguatan spiritual dan pembinaan akhlak jamaah. Dokumentasi : Tim Media Sinar KUA Karanganyar.
Karanganyar_Upaya memperkuat pemahaman dan pengamalan nilai-nilai keagamaan terus dilakukan Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Karanganyar melalui kegiatan bimbingan dan penyuluhan kepada masyarakat. Salah satunya dilaksanakan bersama jamaah Ikhwan Tareqoh Naqsabandiyah Desa Buara melalui kajian keagamaan yang mengangkat tema “Enam Pilar Hidup Sufi Ala Naqsyabandiyah.”
Kegiatan tersebut diisi oleh Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Karanganyar, Sayono dan Tarom, yang memberikan penguatan keagamaan sekaligus mengajak jamaah untuk memahami bahwa kehidupan spiritual tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi perlu diwujudkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari.
Dalam penyampaiannya, enam pilar yang menjadi pokok pembahasan meliputi taubat, uzlah, zuhud, takwa, qanaah, dan taslim. Keenam nilai tersebut dipaparkan sebagai bagian penting dalam membangun kualitas kehidupan seorang muslim agar semakin dekat kepada Allah SWT dan mampu menghadapi kehidupan dengan ketenangan batin.
Para jamaah Ikhwan Tarekat Naqsyabandiyah Desa Buara menyimak materi keagamaan dengan khusyuk
di dalam masjid, Selasa (15/9/2026). Pengajian ini menekankan pengamalan pilar-pilar sufi sebagai
pedoman hidup sehari-hari. Dokumentasi : Tim Media Sinar KUA Karanganyar.
Sayono menjelaskan bahwa jalan spiritual membutuhkan proses yang terus-menerus. Taubat menjadi pintu kesadaran untuk memperbaiki diri dan kembali kepada Allah SWT. Uzlah dimaknai sebagai upaya mengambil jarak sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan untuk melakukan introspeksi dan mendekatkan diri kepada Allah. Sementara zuhud mengajarkan agar seseorang tidak diperbudak oleh kecintaan berlebihan terhadap kehidupan dunia.
Adapun takwa menjadi landasan dalam menjaga hubungan dengan Allah SWT, sedangkan qanaah mengajarkan sikap menerima dan mensyukuri ketetapan Allah tanpa kehilangan semangat untuk berikhtiar. Pilar terakhir, taslim, meneguhkan sikap berserah diri kepada Allah setelah menjalankan ikhtiar secara sungguh-sungguh.
“Hidup sebagai seorang muslim, terlebih dalam menjalani jalan spiritual, tidak cukup hanya memahami ilmu. Taubat harus melahirkan perubahan, zuhud harus melahirkan kesederhanaan, takwa harus tampak dalam perilaku, qanaah harus melahirkan rasa syukur, dan taslim harus membuat kita mampu menerima ketetapan Allah dengan hati yang tenang,” ujar Sayono.
Menurutnya, keenam pilar tersebut memiliki keterkaitan yang erat dalam membentuk pribadi yang lebih matang secara spiritual. Jamaah diajak untuk menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan, baik dalam hubungan dengan Allah SWT maupun dalam kehidupan bermasyarakat.
Tarom turut memberikan penguatan agar jamaah mampu menghubungkan materi bimbingan dengan realitas kehidupan sehari-hari. Menurutnya, majelis taklim tidak hanya menjadi ruang untuk menambah wawasan keagamaan, tetapi juga menjadi sarana membangun kebersamaan, memperkuat silaturahmi, dan meningkatkan kualitas pengamalan agama.
Kegiatan bimbingan tersebut mendapat respons positif dari jamaah Ikhwan Tareqoh Naqsabandiyah Desa Buara. Jamaah menilai materi yang disampaikan relevan dengan kehidupan sehari-hari karena tidak hanya membahas aspek spiritual secara konseptual, tetapi juga memberikan dorongan untuk melakukan evaluasi dan perbaikan diri.
“Materinya sangat menyentuh karena mengajak kami untuk tidak hanya merasa sudah beragama, tetapi juga melihat kembali bagaimana sikap dan perilaku kita. Enam pilar ini menjadi pengingat agar kami lebih banyak introspeksi, bersyukur, dan berserah diri kepada Allah,” ungkap salah seorang jamaah.
Melalui kegiatan tersebut, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Karanganyar berharap keberadaan majelis taklim dan komunitas keagamaan dapat terus menjadi ruang pembinaan spiritual masyarakat. Nilai-nilai tasawuf yang dipelajari diharapkan tidak berhenti dalam forum kajian, tetapi mampu tumbuh menjadi karakter yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari.
Bimbingan kepada jamaah Ikhwan Tareqoh Naqsabandiyah Desa Buara ini sekaligus menjadi bagian dari ikhtiar KUA Kecamatan Karanganyar dalam menghadirkan penyuluhan agama yang humanis, kontekstual, dan berdampak, dengan menjadikan nilai-nilai keagamaan sebagai kekuatan untuk membangun pribadi dan masyarakat yang lebih baik.
Kontributor : Artanti Laili Zulaiha


Tidak ada komentar:
Posting Komentar